Jakarta – Perjalanan akademik Diajeng Dhea Annisa Aura Islami selama hampir tiga setengah tahun di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) tidak hanya diisi dengan aktivitas belajar di ruang kuliah. Mahasiswi Program Studi S-1 Hukum, Fakultas Hukum UPNVJ tersebut juga harus menjalani rutinitas sebagai mahasiswa komuter dengan waktu tempuh pulang-pergi hingga enam jam setiap hari. Di tengah berbagai tantangan fisik, mental, dan padatnya aktivitas kampus, Diajeng berhasil menyelesaikan studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.

Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh konsistensi, disiplin, serta kemampuan menjaga keseimbangan dalam menjalani berbagai peran sebagai mahasiswa.

“Itu mungkin salah satu tantangan terbesar yang harus saya hadapi. Waktu perjalanan pulang-pergi bisa mencapai sekitar enam jam,” ujar Diajeng.

Menurutnya, perjalanan panjang dari rumah menuju kampus menjadi tantangan yang harus dihadapi hampir setiap hari selama masa perkuliahan. Waktu yang dihabiskan di perjalanan sering kali menguras tenaga dan konsentrasi, terutama ketika harus mengikuti perkuliahan, kegiatan organisasi, kepanitiaan, maupun aktivitas akademik lainnya dalam waktu yang bersamaan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk belajar. Diajeng memilih membangun disiplin secara bertahap dan menjaga konsistensi agar tetap mampu mengikuti ritme kehidupan kampus dengan baik.

Bagi Diajeng, salah satu kunci utama mempertahankan prestasi akademik adalah mencintai bidang ilmu yang dipelajari. Sejak awal menjadi mahasiswa Fakultas Hukum, ia berusaha menikmati setiap proses pembelajaran dan memahami makna dari setiap mata kuliah yang diikuti.

“Menurut saya, penting untuk menikmati setiap mata kuliah dan rangkaian perkuliahan yang dijalani,” katanya.

Untuk mendukung proses belajar, Diajeng memiliki kebiasaan menyusun jadwal belajar berdasarkan mata kuliah yang sedang dipelajari. Ia juga terbiasa membaca materi lebih awal sebelum semester dimulai agar memiliki pemahaman dasar yang lebih kuat ketika mengikuti perkuliahan.

Kebiasaan membaca menjadi bagian penting dalam rutinitas akademiknya. Diajeng secara rutin membeli buku-buku hukum dan menetapkan target membaca sedikitnya 10 halaman setiap hari. Dalam satu semester, ia berupaya menyelesaikan minimal lima buku sebagai bentuk investasi pengetahuan dan penguatan literasi akademik.

“Saya menargetkan minimal lima buku selesai dibaca dalam satu semester,” tuturnya.

Menurut Diajeng, konsistensi belajar yang dijalankannya tidak terlepas dari tujuan besar yang telah ia bangun sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Cita-cita tersebut menjadi sumber motivasi yang selalu mengingatkannya untuk terus melangkah meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Saya selalu mengingat kembali alasan saya memulai semua ini,” ujarnya.

Baginya, konsistensi tidak berarti harus bekerja tanpa henti setiap saat. Konsistensi justru terletak pada kemampuan untuk terus bergerak maju, meskipun dengan langkah kecil dan perlahan.

“Konsistensi bukan tentang belajar tanpa henti sepanjang waktu, melainkan tentang terus melangkah meski perlahan,” katanya.

Selain fokus pada akademik, Diajeng juga aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas fakultas maupun universitas. Keterlibatan tersebut membuatnya terbiasa mengelola waktu dan menentukan prioritas sesuai kebutuhan.

Di balik capaian akademiknya, Diajeng mengaku juga menghadapi tantangan dari dalam dirinya sendiri. Ia memiliki kecenderungan perfeksionis yang terkadang membuatnya menetapkan standar terlalu tinggi dalam berbagai hal.

Seiring berjalannya waktu, ia belajar untuk lebih realistis dan memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna. Menurutnya, menjaga standar yang tinggi tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan menerima keterbatasan diri.

“Seiring waktu, saya belajar untuk sedikit menurunkan ego dan lebih realistis dalam situasi tertentu,” ujarnya.

Diajeng juga menekankan bahwa mempertahankan IPK tinggi bukan hanya soal belajar keras. Menurutnya, mahasiswa perlu mampu menjaga keseimbangan antara kesehatan mental, energi fisik, dan kestabilan emosional agar dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Mempertahankan IPK tinggi juga tentang menyeimbangkan kekuatan mental, energi fisik, dan kestabilan emosional,” katanya.

Dalam perjalanan akademiknya, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor terpenting yang membantunya mencapai berbagai prestasi. Ia secara khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada mama, nenek, dan kakeknya yang selalu hadir dalam setiap fase kehidupannya.

“Mereka merupakan tiga sosok utama yang selalu hadir dan mengiringi setiap fase kehidupan saya,” ucapnya.

Selain keluarga, Diajeng juga mengapresiasi dukungan dari teman-teman dan para dosen yang telah memberikan berbagai kesempatan untuk berkembang melalui kegiatan penulisan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat di bidang hukum.

Menurutnya, keberhasilan akademik tidak pernah dicapai seorang diri. Lingkungan yang suportif, bimbingan dosen, serta kesempatan belajar yang diberikan kampus memiliki peran besar dalam membentuk perjalanan seorang mahasiswa.

“Prestasi akademik tidak pernah dicapai sendirian,” ujarnya.

Menjelang akhir wawancara, Diajeng berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak terlalu sering membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki tantangan, waktu, dan proses perjuangannya masing-masing.

“Jangan terlalu sering membandingkan perjalanan kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki waktu dan perjuangannya masing-masing,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa beristirahat bukan berarti kehilangan produktivitas. Dalam perjalanan panjang mencapai tujuan, mengambil jeda justru menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan kesehatan diri.

“Terkadang beristirahat juga merupakan bagian dari menjadi produktif,” tutupnya.

Kisah Diajeng Dhea Annisa Aura Islami menunjukkan bahwa prestasi akademik tidak hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari disiplin, daya tahan, kemampuan mengelola diri, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun menghadapi berbagai tantangan. Capaian tersebut sejalan dengan komitmen UPNVJ dalam membentuk lulusan yang kompeten, tangguh, adaptif, dan berkarakter, sebagaimana nilai-nilai yang terus dikembangkan di lingkungan Kampus Bela Negara.