Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., mengingatkan para lulusan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) agar tidak hanya mengandalkan gelar akademik ketika memasuki dunia kerja. Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Wisuda Diploma, Sarjana, Magister, dan Profesi ke-76 UPNVJ yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senin (18/5/2026).
Di hadapan para wisudawan, pimpinan universitas, dosen, orang tua, dan tamu undangan, Prof. Yassierli menegaskan bahwa dunia industri saat ini tengah bergerak menuju sistem rekrutmen berbasis keterampilan (skills-based hiring). Perusahaan tidak lagi hanya mempertimbangkan asal perguruan tinggi atau gelar akademik, melainkan lebih fokus pada kemampuan nyata yang dimiliki oleh calon tenaga kerja.
“Saat ini dunia industri, dunia usaha tidak lagi melihat schools, dia kuliahnya di mana, dia lulusan apa, tapi yang dicari adalah skills,” ujar Prof. Yassierli.
Menurutnya, perubahan tersebut dipicu oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat, termasuk kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence), digitalisasi, transisi menuju ekonomi hijau, serta perubahan demografi global yang memengaruhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
Prof. Yassierli menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Ketenagakerjaan, sebanyak 73 persen perekrut profesional kini menjadikan keterampilan sebagai faktor utama dalam proses seleksi tenaga kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi praktis, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi perubahan menjadi modal yang semakin penting bagi lulusan perguruan tinggi.
Ia menegaskan bahwa latar belakang pendidikan tetap memiliki nilai penting, namun kemampuan untuk terus berkembang dan menjawab kebutuhan industri akan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan karier seseorang.
Dalam paparannya, Prof. Yassierli juga menyoroti pengaruh kecerdasan buatan terhadap transformasi dunia kerja. Menurutnya, AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kebutuhan industri saat ini.
“Data saya menunjukkan 78 persen perusahaan mensyaratkan lulusan yang kemudian diterima itu sudah minimal mengenal AI,” katanya.
Ia mengakui bahwa otomatisasi akan menggantikan sebagian pekerjaan rutin dalam beberapa tahun ke depan. Namun, pada saat yang sama, perkembangan teknologi juga menciptakan peluang baru melalui lahirnya berbagai profesi yang sebelumnya belum pernah ada.
“Report menunjukkan 92 juta pekerjaan akan hilang tergantikan pada tahun 2030 pada skala global. Tapi juga ada peluang sekian banyak pekerjaan baru yang akan tercipta dengan jumlah yang lebih banyak,” ucapnya.
Sebagai contoh, Prof. Yassierli menyebut profesi seperti social media manager, data scientist, dan berbagai pekerjaan berbasis ekonomi digital yang kini menjadi bagian penting dari ekosistem industri modern. Menurutnya, sebagian besar profesi tersebut bahkan belum dikenal luas dua dekade lalu.
“Ada research dari LinkedIn, 80 persen pekerjaan yang terlihat meningkat signifikan itu belum ada 20 tahun yang lalu,” lanjutnya.
Meski teknologi berkembang semakin pesat, Prof. Yassierli menegaskan bahwa kemampuan manusia tetap menjadi aspek yang tidak tergantikan. Ia menyebut sejumlah kompetensi seperti kemampuan mengambil keputusan (judgment), membangun hubungan (relationship building), berpikir kritis (critical thinking), dan empati (empathy) akan tetap menjadi kebutuhan utama di dunia kerja masa depan.
“Apa itu? Judgment, relationship building, critical thinking, dan empathy,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa teknologi harus dipandang sebagai alat yang mendukung produktivitas manusia, bukan sebagai pengganti peran manusia secara keseluruhan.
“People first dan technology itu hanya sebagai enabler,” kata Prof. Yassierli.
Selain menyoroti pentingnya keterampilan dan kemampuan adaptasi, Menteri Ketenagakerjaan juga mengajak para lulusan untuk mengembangkan growth mindset atau pola pikir berkembang. Menurutnya, lulusan tidak boleh merasa proses belajar telah selesai setelah memperoleh ijazah.
“Jangan menjadi orang yang fixed mindset. Orang yang merasa bahwa kecerdasan itu adalah status. Saya sudah sarjana, saya sudah cukup,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perjalanan membangun kompetensi merupakan proses sepanjang hayat yang harus terus dilakukan melalui upskilling dan reskilling agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
“Journey kita dalam membangun kompetensi diri tidak selesai ketika ijazah kita peroleh,” tutur Prof. Yassierli.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yassierli juga menjelaskan berbagai langkah pemerintah dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri. Salah satunya melalui penguatan program pelatihan vokasi dan pemagangan.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalankan program magang bagi 100 ribu peserta dengan uang saku yang disesuaikan dengan upah minimum selama enam bulan. Program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kerja nyata dan memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia profesional.
“Tahun lalu kami memiliki program prioritas magang 100 ribu orang dengan uang saku yang dibayar sesuai upah minimum selama enam bulan,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mengembangkan pelatihan berbasis project-based learning pada bidang-bidang pekerjaan masa depan seperti ekonomi digital, green jobs, kecerdasan buatan, dan smart city. Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk menyelesaikan persoalan nyata yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Tahun ini kami mendapatkan anggaran untuk memberikan pelatihan vokasi hampir lebih dari 300 ribu orang,” ujar Prof. Yassierli.
Menutup sambutannya, Menteri Ketenagakerjaan mengajak para wisudawan UPNVJ untuk memandang perubahan sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, kesempatan akan selalu tersedia bagi mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan terus mengembangkan keterampilan.
“Peluang itu banyak. Di mana ada kesempatan, di situlah bagaimana kita bisa mengonversi peluang-peluang itu menjadi capaian bisnis dan keberhasilan,” pungkasnya.
Melalui pesan tersebut, Prof. Yassierli berharap para lulusan UPNVJ mampu menjadi generasi yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi transformasi dunia kerja. Dengan perpaduan keterampilan, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat, lulusan diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
