Jakarta — Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) mendorong pembentukan karakter mahasiswa melalui pendekatan neurosains dalam program PROSPEKTIV 2026. Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UPNVJ, Dr. dr. Taufiq Fredrik Pasiak, M.Kes., M.Pd.I., M.H., CIPA., menyampaikan materi Character Building Based on Neuroscience yang membahas hubungan antara cara kerja otak, pembentukan kebiasaan, dan perilaku manusia.

Dalam pemaparannya, Taufiq menekankan tiga karakter utama yang perlu dikembangkan mahasiswa, yaitu integritas, kreativitas, dan resiliensi. Ketiganya menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan akademik, beradaptasi terhadap perubahan, serta menjalankan tanggung jawab di lingkungan sosial maupun profesional.

Ia menjelaskan bahwa karakter bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap sejak lahir. Melalui neuroplastisitas, otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan memperkuat hubungan antarsel saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan berulang. Karena itu, pembentukan karakter perlu dilakukan melalui pembiasaan perilaku positif, bukan sekadar memahami nilai-nilai kebaikan secara teoritis.

Dalam kehidupan kampus, pembiasaan tersebut dapat diwujudkan melalui kejujuran dalam mengerjakan tugas, tanggung jawab terhadap kewajiban akademik, penghargaan terhadap perbedaan pendapat, serta keberanian mengakui kesalahan.

Integritas, Kreativitas, dan Resiliensi sebagai Fondasi Karakter

Integritas merupakan keselarasan antara nilai, perkataan, dan tindakan. Bagi mahasiswa, karakter ini tercermin dalam kejujuran akademik, penolakan terhadap plagiarisme, dan konsistensi menjalankan aturan tanpa bergantung pada pengawasan. Integritas juga menjadi landasan untuk membangun kepercayaan di lingkungan akademik.

Kreativitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gagasan baru yang relevan dan bermanfaat. Mahasiswa perlu berani bertanya, mengeksplorasi beragam perspektif, serta menemukan alternatif penyelesaian masalah melalui diskusi, eksperimen, dan kolaborasi lintas disiplin.

Sementara itu, resiliensi merupakan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan. Karakter ini membantu mahasiswa menyikapi kegagalan sebagai pengalaman belajar, menjaga motivasi, dan menghadapi tekanan akademik secara lebih adaptif.

Lingkungan Kampus Turut Membentuk Karakter

Selain kebiasaan individu, lingkungan sosial dan akademik berperan penting dalam pembentukan karakter. Dosen, sesama mahasiswa, serta budaya pembelajaran dapat menjadi faktor yang memperkuat perilaku positif.

Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan melalui objektivitas penilaian, konsistensi terhadap aturan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas pendidikan. Metode pembelajaran yang inovatif serta ruang diskusi yang terbuka juga dapat mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Taufiq turut menyoroti pentingnya pengelolaan emosi dalam membangun karakter yang matang. Kemampuan memahami dan mengendalikan respons emosional membantu individu mempertimbangkan konsekuensi tindakan sebelum mengambil keputusan, terutama ketika menghadapi situasi penuh tekanan.

Melalui pendekatan berbasis neurosains, mahasiswa diajak memahami bahwa pembentukan karakter merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan latihan, refleksi diri, dan dukungan lingkungan.

Materi ini memperkuat komitmen UPNVJ dalam mengintegrasikan pengembangan kompetensi akademik dan karakter mahasiswa. Sejalan dengan nilai-nilai bela negara, penguatan integritas, kreativitas, dan resiliensi diharapkan membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bertanggung jawab, tangguh menghadapi perubahan, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.