Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) sekaligus Anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian mengajak mahasiswa baru Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) untuk berani menjadi pencipta peluang melalui kreativitas, inovasi, dan ekonomi kreatif.
Pesan tersebut disampaikan Kawendra dalam rangkaian hari kedua Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UPNVJ 2026 di Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026). Ia membawakan materi bertajuk “Future Makers: Empowering Youth in the Digital Era” di hadapan 4.612 mahasiswa baru.
Kawendra menekankan bahwa generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi atau konsumen berbagai produk perkembangan zaman. Mahasiswa perlu berani menciptakan gagasan dan mengubahnya menjadi karya, produk, solusi, maupun usaha yang memiliki nilai tambah.
“Setiap langkah besar dimulai dari satu ide berani. Kamu bukan hanya penerus bangsa, kamu adalah pembentuk masa depannya,” kata Kawendra.
Ide dan Kreativitas Jadi Modal Generasi Muda
Menurut Kawendra, ide merupakan sumber utama kreativitas. Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, kemampuan mengembangkan gagasan menjadi modal penting agar generasi muda tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi turut menentukan arah perubahan.
Penguasaan keterampilan teknis seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pemrograman, dan pengolahan data tetap penting. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama kreativitas, empati, kepemimpinan, kolaborasi, dan adaptabilitas.
Kombinasi antara keterampilan teknologi dan kemampuan manusia tersebut dinilai menjadi modal penting bagi generasi muda untuk membangun daya saing sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Ekonomi Kreatif Buka Banyak Peluang
Kawendra menilai Indonesia memiliki ruang besar bagi perkembangan ekonomi kreatif. Dalam paparannya, ia menyebut ekonomi kreatif Indonesia telah berkembang ke dalam 21 subsektor, yang menunjukkan luasnya bidang yang dapat dimasuki generasi muda melalui kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki literasi ekonomi kreatif yang baik. Kreativitas tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi masyarakat.
Kampus memiliki posisi strategis dalam proses tersebut karena menjadi ruang bertemunya mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, penelitian, teknologi, komunitas, dan gagasan baru.
Kawendra menggambarkan ekosistem ekonomi kreatif melalui empat simpul utama, yakni komunitas dan kreator, universitas dan riset, industri dan pemerintah, serta kolaborasi untuk menghasilkan dampak nasional.
Melalui ekosistem tersebut, ide mahasiswa diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Gagasan dapat dikembangkan melalui komunitas, diuji melalui riset, dipertemukan dengan kebutuhan industri, hingga menghasilkan produk atau solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kreativitas sebagai Wujud Bela Negara
Kawendra juga mengaitkan ekonomi kreatif dengan identitas UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara. Menurutnya, kontribusi kepada bangsa di era digital dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, mulai dari inovasi, penelitian, kewirausahaan, teknologi, hingga pengembangan produk kreatif.
Mahasiswa dapat mengambil peran dengan membangun perusahaan rintisan, menciptakan konten edukatif, menghasilkan inovasi teknologi, mengembangkan produk lokal, maupun menghadirkan solusi terhadap persoalan di masyarakat.
Dengan demikian, Bela Negara dapat diwujudkan melalui kemampuan menciptakan karya yang memberikan manfaat sekaligus memperkuat daya saing Indonesia.
Dari Kampus Menuju Panggung Global
Dalam kesempatan tersebut, Kawendra juga memperkenalkan ASTAKARYA, delapan program prioritas strategis GEKRAFS periode 2025–2030. Program tersebut mencakup penguatan akses pembiayaan ekonomi kreatif, perlindungan kekayaan intelektual, diplomasi gastronomi, pengembangan talenta muda dan inklusif, perluasan jejaring global, pengembangan pusat kreatif daerah, perlindungan hak pekerja kreatif, serta penetrasi pasar dan literasi digital.
Kawendra juga menyampaikan gagasan “Road to World Conference on Creative Economy 2026: Dari Kampus ke Panggung Global.” Gagasan tersebut menggambarkan bagaimana ide yang lahir di lingkungan kampus dapat berkembang melalui komunitas, jejaring ekonomi kreatif, hingga memperoleh kesempatan untuk tampil di tingkat global.
Untuk itu, mahasiswa didorong mulai membangun kapasitas sejak awal perkuliahan. Melalui pesan “Start Before You’re Ready”, Kawendra mengajak mahasiswa melakukan empat langkah, yakni membangun personal branding, mempelajari AI, mengembangkan portofolio, dan memperluas jejaring.
Mahasiswa juga didorong membangun identitas digital secara konsisten, memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, mendokumentasikan karya dalam portofolio, serta aktif terhubung dengan komunitas, perusahaan rintisan, industri, dan ekosistem digital.
“Create opportunities, don’t wait for them,” ujarnya.
Pesan Kawendra memperkuat semangat PKKMB UPNVJ 2026 yang mengusung tema “Muda Berkarakter Bela Negara, Berdampak Nyata untuk Bangsa.” Mahasiswa baru tidak hanya dipersiapkan untuk mengikuti proses pendidikan tinggi, tetapi juga didorong memiliki keberanian untuk menciptakan perubahan.
Bagi UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara, kreativitas, inovasi, dan kemampuan menghasilkan solusi merupakan bagian dari kontribusi nyata generasi muda kepada bangsa.
Melalui semangat tersebut, mahasiswa baru UPNVJ diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna teknologi dan penikmat produk ekonomi kreatif, tetapi tumbuh sebagai pencipta ide, pembangun peluang, dan future makers yang mampu membawa karya Indonesia semakin kompetitif di tingkat nasional maupun global.
