Jakarta – Senyum haru terpancar dari wajah Malin Nur Aeni, salah satu wisudawan dalam Wisuda ke-75 Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ). Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan seorang anak dari dusun kecil di Cilacap, Jawa Tengah, yang berani menggapai mimpi di tengah keterbatasan.
Sejak kecil, Malin tumbuh bersama sang ayah, seorang pedagang sekaligus montir sederhana, yang menanamkan nilai-nilai kerja keras dan semangat pantang menyerah. “Bapak bilang, ‘Gusti Allah mboten sare, Nduk. Gusti Allah pasti dengar doa bapak’. Itu yang selalu saya ingat,” kenangnya.
Namun, saat Malin baru lulus SMA, sang ayah berpulang untuk selamanya. Kehilangan itu sempat membuatnya terpuruk. Akan tetapi, janji untuk melanjutkan mimpi sang ayah melalui pendidikan menjadi tekadnya. Dengan berbekal doa dan pesan ayahnya, Malin memutuskan merantau ke Jakarta.
Hidup sebagai perantau di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Malin harus menghadapi tantangan finansial dan adaptasi di kota besar. “Meninggalkan kampung halaman untuk pertama kali terasa seperti menanggalkan sebagian diri saya,” ujarnya.
Untuk membiayai hidupnya, Malin rela bekerja paruh waktu di kafe dan membuka bimbingan belajar. Jarak tempuh yang jauh ke kampus dan tempat tinggal berpindah-pindah tidak menghentikan semangatnya. Ia membuktikan diri dengan berbagai prestasi akademik, mulai dari lolos Program Kreativitas Mahasiswa, terlibat dalam penelitian pangan darurat, hingga meraih hibah prestisius Nutrfood Research Fellowship dan Indofood Riset Nugraha. Ia bahkan mewakili UPNVJ dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.
Beasiswa KIP-K Luar Daerah menjadi jembatan yang membawanya meraih gelar sarjana di Program Studi S1 Gizi UPNVJ. “KIP-K adalah penyelamat. Tanpanya, mungkin saya tidak akan sampai di sini,” tutur Malin penuh syukur.
Saat namanya dipanggil di panggung wisuda, Malin tidak hanya membawa kebanggaan pribadi, tetapi juga mewujudkan mimpi ayahnya. Pesan yang ia sampaikan untuk generasi muda di pelosok negeri sangat sederhana namun sarat makna.
“Jangan pernah berhenti bermimpi. Mimpi bukan milik mereka yang punya segalanya, tapi milik siapa saja yang mau memperjuangkannya. Saya adalah buktinya—anak dari dusun kecil pun bisa berdiri sejajar dengan siapa pun,” pungkasnya.
